Sabtu, 13 Juni 2009

Resensi Film Laskar Pelangi

Kisah film ‘Laskar Pelangi‘yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata tak hanya soal pentingnya pendidikan. Warna-warni pershabatan 10 bocah Belitong dalam film ini juga cukup menarik dan bisa membuat penonton tertawa dan menangis.
Film ini dibuka dengan adegan ketika hari pertama Ikal (Zulfanny) berangkat ke sekolah, namun ia harus menggunakan sepatu perempuan karena tak mampu beli sepatu sekolah. Sayang sepatu perempuan yang dipakai Ikal kurang mewakili desain sepatu tahun 70an.
Di hari pertama Ikal sekolah juga jadi hari yang penting untuk kelanjutan pendidikan di SD Muhammdyah di desa Gentong, Belitong. Pada hari itu Ibu Muslimah (CUt Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara) harus berhasil mengumpulkan 10 murid supaya sekolah tersebut tidak ditutup.
Satu demi satu murid pun mulai terkumpul. Sayang hingga waktu yang ditentukan, kedua guru itu hanya berhasil mengumpulkan 9 murid. Hingga akhirnya tibalah Harun (Jeffry Yanuar) dengan ditemani ibunya. Ia pun berlari melewati padang rumput menuju ke sekolah yang bangunannya hampir roboh itu untuk menjadi penyelamat masa depan kesembilan murid yang sudah gelisah. Sepuluh murid pun sudah terkumpul, mereka pun mendapat julukan Laskar Pelangi oleh Ibu Muslimah.
Tantangan demi tantangan harus dihadapi oleh Ibu Muslimah, Pak Harfan dan Laskar Pelangi untuk bisa terus sekolah. Namun berkat kecerdasan dan bakat yang dimiliki para Laskar Pelangi berhasil mendorong semangat sekolah mereka.
Kisah dalam ‘Laskar Pelangi‘yang mengangkat pentingnya pendidikan dibalut dalam cerita warna-warninya persahabatan di antara 10 murid SD Muhammadiyah itu. Masing-masing murid tersebut memiliki keunikan tersendiri.
Warna-warni film ‘Laskar Pelangi‘ juga terlihat dengan adanya berbagai hal yang bisa dilihat dalam layar lebar produksi Miles Film ini. Ada kisah cinta monyet, perjuangan orangtua dan indahnya persahabatan.
Menonton ‘Laskar Pelangi‘bisa membuat kita tertawa sekaligus menangis. Apalagi akting para pendatang baru yang memerankan Laskar Pelangi tak mengecewakan, mereka sangat natural. Hal itu bisa jadi karena mereka sebelumnya sudah menjalani latihan akting selama tiga bulan.
Dalam film garapan Riri Riza ini ada satu penambahan tokoh yang tidak ada dalam novel. Tokoh tersebut adalah Pak Mahmud yang diperankan Tora Sudiro. Menurut Riri penambahan karakter itu untuk memperkuat penyampaian pesan fim ini.
Setting yang dibuat oleh Eros Eflin selaku penata artistik untuk film ‘Laskar Pelangi‘ cukup menggambarkan nuansa tahun 70an. Ditambah dengan syuting yang dilakukan di Belitong, sehingga benar-benar tertangkap suasana lokalnya. Secara keseluruhan film ‘Laskar Pelangi‘ patut mendapat acungan jempol.


Thanks 4 Angga



0 komentar:

Posting Komentar